Senin, 09 April 2012

Pameran Tempo Doeloe

Hiruk pikuknya suasana pameran mengingatkanku akan masa-masa silam, saat itu pasar malam menjadi tempat hiburan favorit dikampungku, meskipun masuk ke arena pasar malam harus bayar (beli karcis masuk), tidak menyurutkan niat para pengunjung pasar malam tersebut. Berbagai jajanan berupa makanan hingga perabotan dapur dijual dipasar ini, kalau dilihat dari harga memang terhitung murah dari harga pasar pada umumnya, tak hanya itu di pasar malam ini pun banyak disediakan arena permainan seperti komedi putar, roda gila, ombak banyu; kami menebutnya seperti itu yaitu permainan mirip ayunan berbentuk lingkaran dari papan yang dibentuk lingkaran saling berhadapan yang digerakkan dengan dorongan beberapa orang, juga ada rumah hantu yang jika orang masuk ke rumah-rumahan tersebut pasti akan teriak histeris ketakutan. Aku paling suka naik "ombak banyu" itu, jantung berdegup kencang rasanya saat menaiki permainan tersebut, tapi seru gila!!! Jajanan paling aku suka di pasar malam adalah martabak telur, dulu masih jarang memang penjual martabak telur selain yang ada di pasar tradisional.

Sabtu, 07 April 2012

Sepenggal episode...

Sewaktu aku kecil, hidup di suatu kampung yang cukup jauh dari keramaian dan hiruk pikuknya kehidupan kota, tak pernah sedikitpun terlintas dibenakku aku akan menjalani hidup seperti sekarang ini, terbang jauh meninggalkan desa kelahiranku, bahkan dalam mimpi pun tak pernah, namun atas kuasa Nya serta kehendak Nya ku bisa terbang ke sana kemari bagaikan burung bahkan pergi ke tempat yang tak terbayangkan sebelumnya. Dulu, sarapan pagi sebelum berangkat sekolah pakai telur mata sapi sudah tergolong mewah untuk kami, hmmmmmmmm... biasanya cukup dengan sayur tahu-tempe atau sebuah "bala-bala" (bakwan sayur) atau bahkan hanya ditemani dengan sebuah kerupuk yang di jajakan oleh seorang nenek yang biasa berkeliling kampung setiap pagi menjelang kami berangkat sekolah, tapi itu cukup membuat kami tumbuh sehat dan tidak menderita gizi buruk, ya... hal ini berlangsung sejak aku duduk di bangku SD hingga aku duduk di bangku SMA, hidup yang sederhana memang, tapi itu hal lumrah di kampung kami, tidak ada perbedaan sosial yang mencolok di kehidupan kami saat itu. Kalo ada tamu keluarga ibu datang itulah saat senang bagiku, karena ibu pasti akan memasak lebih dari satu jenis lauk ya meskipun tahu, tempe plus telur dadar atau ikan kalengan (=Sarden; Djitu merek cukup ternama dikamung kami saat itu, karena harganya yang lumayan murah) heheheheh tapi kami memang jarang makan dengan menu yng lebih dari 2 jenis lauk heheheheh selain ketika ada tamu, atau bapak pulang dari jakarta, ikan kering/ikan asin menjadi menu yang tak asing bagi kami. Kalo ibu masak ikan segar (ikan mujair dari kolam nenek), saya paling suka ibu merebusnya dicampur dengan pepaya muda, enak tambah banyak juga lauknya karena ada tambahan buah pepaya muda, ibu juga tak jarang membuat ikan serundeng (ikan kecil-keci/anak ikan yang dicampur dengan parutan kelapa) biar tahan lama dan cukup untuk beberapa hari, ya... ibuku memang bijak, mengatur keuangan keluarga dari penghasilan bapak yang terhitung pas-pasan. Sering kami pergi ke sekolah berjalan kaki sambil membawa nasi yang dibungkus dengan plastik bekas mie instan, atau plastik bekas kerupuk bahkan kantong-kantong plastik bekas pembungkus belanjaan dari warung yang jauh dari standar kesehatan heheheheheh, ya... itulah kenyataannya. Bapakku hanya seorang penjual barang-barang keliling dengan sistem kredit yang mengadu nasib ke Ibu Kota, sedang ibuku hanya menunggu dan membesarkan kami di rumah. Setiap bulan kami selalu menungu kiriman uang dari bapak yang selalu di titipkan ke tetangga, atau ke temannya dari kampung sebelah yang kebetulan pulang kampung. Suatu saat saya masih teringat betul dalam benakku, saat aku nangis minta uang jajan ibuku tidak mau ngasih karena memang dia tidak punya uang, dia hanya duduk di kursi sambil meneteskan air mata. Untuk keperluan kami makan sering ibu harus ngutang diwarung yang biasa dibayar saat bapak pulang atau kiriman uang dari bapak datang. Untuk membayar spp dan tagihan buku dari sekolah, memang perlu bersabar, menunggu uang kiriman bapak tiba. Ya... bapakku harus kerja keras untuk membiayai sekolah aku dan adik perempuanku (saat itu masih aku dan adik perempuanku yang sekolah, karena ke empat adikku yang lain belum terlahir). Tak jarang kami harus menenteng sepatu saat pergi/pulang sekolah saat hari hujan, hehehehe biar gak kotor n cepet rusak, maklum saat itu sepatu kami cukup satu aja sebelum dapat ganti yang baru kalo sepatu lama sudah rusak. Jauh memang dengan keadaanku saat ini sepatu aja bisa lebih dari dua buah, ya memang gak mungkin lagi donk aku pergi ke kantor nenteng sepatu karena hujan heheheheh... Pada waktu itu kami tidak mengenal mainan PS atau apalah yang sejenisnya, yang sering kami mainkan adalah petak umpet, kucing-kucingan, galah, adu kelereng, adu gambar, adu kemiri (kemiri yang masih ada cangkangnya), layangan, mobil-mobilan buatan sendiri dari potongan bambu yang dimodifikasi dengan batu batrai bekas atau bekas kaleng susu, pistol-pstolan dari kayu, atau dari bambu yang pelurunya dibuat dari rendaman kertas bekas. Hewan kesayangan kami bukanlah kucing, lizard, reptilseperti sekarang ini, tapi kami memelihara marmut, kelinci sehingga tiap hari kami harus mencari rumput untuk pakan hewan kesayangan atau ayam "kate" (= ayam serama). Ikan hias kami pun bukan ikan Louhan atau belida atau ikan apapun yang terkenal saat ini, kami memelihara ikan "koki" kami menyebutnya seperti itu, warnanya bagus, merah, kuning dan putih. Paling mewah mainan saat itu adalah "gamewacth" ntah apa namanya yang betul, namun kami menyebutnya seperti itu atau tetris tipe yang terbaru, kami mainnya di sekolah atau pulang sekolah, sewa Rp. 50,00 untuk 3 kali kalah heheheheheh. Cont....

Senin, 13 Juni 2011

Sepenggal Episod...


Sebut saja si A namanya, dia terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, bersahaja, dari sebuah kampung di kaki gunung, dari sebuah desa yang mempesona. Dia di besarkan dilingkungan yang cukup religi, di keluarga yang cukup disiplin meskipun dari kalangan pendidikan yang minim, berkat kegigihan ibunya dalam mendidiknya dia cukup mejadi kebanggaan orang tuanya dan gurunya di sekolah, dari keyakinannya dia berangkat pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik dengan harapan bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun orang-orang di kampungnya kadang mencibirnya, memandangnya sebelah mata, maklum di kampung tersebut yang dilihat bukan tingginya pendidikan, gelar dibelakang nama yang di sandangnya, tapi seberapa banyak kekayaan yang di miliki, seberapa luas sawah yang dipunyai, seberapa banyak kendaraan yang ditunggangi, tapi alhamdulillah dia dilahirkan dari orang tua yang berbeda prinsip dengan kebanyakan orang di kampungnya. Entah karena pembelaan atau pembenaran dari kondisi ekonomi yang pas-pasan, yang untuk pendidikan itu pun bukan karena modal punya duit atau tabungan, hanya bermodal usaha baru kecil-kecilan dan keyakinan. Keyakinan bahwa setiap makhluk dilahirkan pasti dengan rizki yang menyertainya, yang telah Allah tetapkan dalam buku di lauhil mahfudz Nya.

Ya... akhirnya si anak itu pun berhasil lulus dengan predikat “sangat memuaskan” dari sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di negri itu. Dia berhasil membuat orang tuanya bangga, menangis bahagia, haru menyelimuti saat nama anaknya di panggil dengan mengenakan toga, tak tergambar kebanggaan yang muncul di raut wajah mereka, saat ayahnya melambaikan tangannya saat anakya memasuki ruangan penganugrahan gelar yang akan melekat di belakang namanya.

Kini saatnya membalas budi baik orang tuanya, diapun pergi meninggalkan kampung halaman meninggalkan keluarga yang sangat menyayanginya dan disayanginya.
Berbekal selembar Ijazah yang dia dapatkan dari sebuah perguruan tinggi di negrinya dan ilmu yang dimiliknya, dia mencoba peruntungan rezeki yang Allah tebarkan di muka bumi Nya dan Dia turunkan dari langit Nya. Tanpa sanak saudara hanya berbekal pertemanan dan kepercayaan terhadap temen-temennya dia berangkat ke suatu pulau yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahkan memimpikannya pun tidak pernah.
Hari demi hari dilewatinya dengan penuh susah payah bahkan hampir menyerah, hampir lari dari kenyataan, menghadapi dunia yang bener-bener asing, sangat berbeda dengan apa yang dibayangkannya sebelum ia injakkan kakinya di tanah itu. Dunia nyata yang begitu keras, bertarung dengan alam, dengan manusia-manusia denan berbagai model sifat, perangai dan perilaku.
Hanya persabatan dan kepercayaan terhadap sahabat-sahabatnya saja yang menjadikannya tegar menghadapi semuanya. Saling mendukung, saling menguatkan, itulah yang tercipta selama hidup di tanah asing itu.

Sebagai anak tertua di keluarganya tentulah ia menjadi tulang punggung kedua di keluarganya setelah ayahnya, ayah ibunya yang semakin tua selalu merindukan kepulangannya meskipun harapan itu kadang menjadi harapan kosong bagi mereka, anaknya yang ditunggu-tunggunya tak kunjung jua datang, beberapa lebaran yang dilewatinya tana didampingi putranya yang selalu dinantikannya. Ya... hanya sebuah harapan yagi di mimpikan oleh si sulung itu, orang tuanya tiada kesusahan, adik-adiknya mndapatkan pendidikan yang layak, ya meskipun mungkin harus menunda dan terus menunda impiannya, keinginannya, cita-citanya, apa yang menjadi impian orang seusianya.

Tobe cont...

Senin, 02 Mei 2011

Sabar...


Terinspirasi dari sebuah friendster blog (Ofan’s blog) seorang sahabat “Be Patient. Patience is The Most Important of All Things” yang kalau diartikan mungkin demikian “ Bersabarlah. Kesabaran adalah hal paling penting dari segala sesuatu. ”



Banyak sekali kajian-kajian yang membahas tentang sabar, baik di media elektronik, media massa ataupun dalam kajian-kajian majlis taklim.
“Sabar” adalah kata yang sangat umum di dengar, mungkin tak ada satupun orang yang belum pernah mendengar kata ini, meskipun mungkin sebagian besar dari kita belum memahami apa makna sabar itu sendiri, termasuk juga saya. Kita sering berbicara kepada sahabat kita “sabar ya, mudah-mudahan Allah memberikan gantinya yang lebih baik dari pada dia”, “sabar ya, mungkin inilah yang terbaik buat kita”.

Ya... jika kita memahami kata sabar itu dengan betul pastilah bibir kita akan selalu tersenyum, mata kita tak akan meneteskan air mata atas hal-hal kecil.

Sabar hanya biasa kita artikan sebagai “diam/tidak melawan” saat kita disakiti, saat kita dimarahi, saat kita merasa diperlakukan tidak adil atau saat kita mendapatkan suatu kemalangan. Padahal kalau kita fahami secara betul kesabaran itu terdiri dari 3 kondisi yakni sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, sabar dalam menghadapi ujian atau musibah.

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad. Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya'.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan sunah-sunahnya.
(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang lain.

2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang "menyenangkan".

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai dsb.

Makna Sabar
Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)
Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rab nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:
Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar. (http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-hadits/makna-sabar.htm)

Mudah-mudahan artikel ini menjadi bahan renungan buat kita, sehingga kita bisa benar-benar mengartikan kata sabar dan menerapkan nya dalam hidup kita. Aamiin...

Terimakasih saya ucapkan buat saudaraku atas blognya yang banyak memberikan pelajaran. Ya memang betul apa yang engkau katakan saudaraku “Be Patient. Patience is The Most Important of All Things”. Alhamdulillah saya senang bisa mengenalmu dan menjadi saudaramu akhi...

Minggu, 01 Mei 2011

Berburu Do’a Mustajab

Hidup ini tak lekang dengan masalah, silih berganti dari masalah satu ke masalah lain. Akan tetapi jika kita mau berfikir sebenarnya dibalik masalah tersebut ada pelajaran yang berharga yang dapat kita petik. Rugilah kita tatkala menyia-nyiakan masalah, berlari dari masalah ataupun pura-pura mengaburkan masalah tersebut.

Berdoalah kepada Allah karena itulah kunci dari segala masalah kita, Allah telah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al Baqarah: 186)

Apa susahnya kita mengadu kepada Allah yang telah mentakdirkan semua masalah yang telah menghampiri kita? Segala masalah akan ada kunci jawabnya meskipun entah kapan waktunya. Kita hanya bisa serahkan kepada Allah dan berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkannya. Ingatlah saudaraku apapun masalahnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs Ar-Ra’d: 28)

Saudaraku doa adalah kunci yang sangat ampuh dan mujarab untuk melepaskan kepenatan hati, rasa was-was ataupun segala masalah yang sedang kita hadapi. Ingatlah bahwa doa adalah inti ibadah. Kita percaya bahwa dengan terus dan terus memohon kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusan kita.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

“Jika Allah akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Allah akan membuka (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di depan pintu tersebut.”

Tentu saja tidak semua doa dapat diterima. Oleh karena itu pandai-pandailah dalam mensiasati agar doa terkabul. Dalam kesempatan kali ini akan kami jelaskan orang-orang yang beruntung karena doanya terkabul dan waktu-waktu mustajab untuk berdoa. Akan tetapi hal ini tidak berarti memvonis orang-orang yang tidak termasuk dalam golongan di atas, doanya tidak dikabulkan, Wallahu a’lam bishawab.

Serahkan semua usaha kita kepada Allah, karena Allah yang berhak menentukan hasil dari proses yang kita usahakan.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“ Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ’Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut Nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutkan dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari Muslim)

Ada beberapa golongan manusia yang doanya terkabul, antara lain;

* Doa seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya
Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu, dia berkata bahwa Nabi MuhammamadShalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya kecuali ada seorang malaikat yang ditugaskan berkata kepadanya:’Aamiin, dan bagimu seperti yang kau do’akan.” (HR Muslim

* Orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan bahagia
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.” (HR At-Tirmidzi, Dishahihkan oleh Dzahabi dan dihasankan oleh Al-albani)

* Orang yang teraniaya
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallambersabda:

“Hati-hatilah dengan doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (HR Bukhari & Muslim)

* Doa orangtua kepada anaknya dan doa seorang musafir
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani

* Doa orang yang sedang berpuasa
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallambersabda:

“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani

Kemudian lebih baik lagi tatkala kita tahu waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa sehingga kita bisa maksimal dalam berdoa. Antara lain:

* Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga akhir malam terakhir, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, pasti akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon pasti akan Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti akan Ku ampuni.” (HR Bukhari)

* Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu’anhu, dia mendengar RasulullahShallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)

* Pada setiap dubur shalat fardhu (sesudah tasyahud akhir, sebelum salam)
Dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wata’alla, beliau menjawab:

“Dipertengahan malam yang akhir dan pada setiap dubur shalat fardhu.” (HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

* Pada saat perang berkecamuk
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallambersabda:

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” (HR Abu Daud dishahihkan oleh Imam Nawawi dan Al-Albani)

* Sesaat pada hari Jum’at
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Abul Qasim Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada sesaat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan dikabulkan. Beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut.” (HR Al Bukhari)

* Pada waktu bangun tidur malam hari bagi orang yang bersuci dan berdzikir sebelum tidur
Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Ibnu Majah)

* Diantara adzan dan iqamah
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Daud, dishahihkan Al-Albani)

* Pada waktu sujud dalam shalat
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab doa saat itu sangat diharapkan untuk terkabul.” (HR Muslim)

* Pada saat sedang turun hujan
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Dua doa yang tidak pernak ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan.” (HR Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

* Pada saat ada orang yang baru saja meninggal
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam bersabda tatkala Abu Salamah sakaratul maut:

“Susungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya.” Semua keluarga histeris. Beliau bersabda:”Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat meng-amini apa yang kamu ucapkan.” (HR Muslim)

* Pada malam lailatul qadr
Allah Subhanahu wata’alla berfirman:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Qs Al Qadr: 3-5)

* Doa pada hari Arafah
Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu’anhu dari bapaknya dari kakeknya, NabiShallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah.” (HR At Tirmidzi dishahihkan Al-Albani)

Semoga bermanfaat dan dapat mengoptimalkan agar doa terkabul. Wallahu a’lam.

***
Penyusun : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari
Muroja’ah : Ust Abu Ukasyah Aris Munandar

Rujukan:
Do’a dan wirid penerbit Pustaka Imam Syafi’i
Kesalahan dalam Berdoa penerbit Darul Haq

Source : berburu_doa_mustajab

--
------------------------[DKM-ANNAHL]------------------
Samsung Electronics Indonesia
Jl.Jababeka Raya Blok F29-33 Kawasan Industri Cikarang, Bekasi.

E-mail : sein.annahl@gmail.com | masjid_annahl-owner@googlegroups.com
Situs : http://muslimsein.wordpress.com/
--------------------------------------------------------------------------
Join milis : masjid_annahl-subscribe@googlegroups.com
Exit milis : masjid_annahl-unsubscribe@googlegroups.com

Jika berkenan,
kirimkan artikel ini ke teman-teman anda.

Rabu, 27 April 2011

Cinta Terkembang Jadi Kata

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta datang. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta itu membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu.

Cinta bahkan menyadarkan kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung. Tiba-tiba semua itu punya arti. Tiba-tiba semua wujud itu masuk ke dalam kesadaran kita. Tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita. Tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita. Tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta.

Itu sebabnya para pecinta selalu berubah menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi. Atau setidak-tidaknya menyukai karya-karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu. Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat. Tapi semata-mata ia tidak kuat menahan menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita jadi halus dan lembut. Maka semua yang lahir dari kehalusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut. Hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita.

Puisi “Aku Ingin”nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah makna-makna itu. Apakah Sapardi sedang jatuh cinta itu atau sedang memaknai kembali cintanya? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

http://majalahtarbawi.blogspot.com/2011/01/serial-cinta.html

Senin, 25 April 2011

Ada rasa yang hilang saat ini........


Ada setitik kerinduan menyelimuti hatiku saat ini, entah pada apa atau siapa,
Ada rasa yang hilang saat ini.
Entah apa yang kurasakan di malam ini, gundah, gelisah. Fikiran jauh menerawang, berangan yang tak mungkin kesampaian, Yaa Rabb... Ampuni hamba...
Pertemuan dan perpisahan memang hal yang biasa dalam kehidupan. Tak ada yang abadi. Namun kadang membekas luka atau bahagia.
Senang dan susah datang silih berganti. Bergulir mengisi hari-hari, berputar mengikuti roda waktu yang tak lelah berputar.
Tangis dan tawa selalu mewarnai perjalanan ini.

Kenapa malam ini ku merasa sendiri, ku merasa semua menjauh, menjauh dan makin menjauh.
Tak ada yang peduli, tak ada yang memberikan perhatian, tak ada teman berbagi, hampa.
Di mana mereka?
Saat ini ku butuh kalian, rasa sesak di dada ini ingin ku curahkan tapi entah pada siapa, aku tak tau, semua mau ku cerita pada siapa? Adakah yang mengerti? Adakah yang peduli? Adakah yang mau berbagi? Adakah seorang sahabat yang bersedia memahamiku, mendengarkanku, mengerti akanku. Adakah sahabat yang tak hanya ada di saat hanya ia butuh? Hanya ada di saat ia perlu,
Adakah yang mau jujur terhadap dirinya, tanpa harus berpura-pura?


Banjarmasin, senin 25 april menjelang tengah malam